Tersangka Perancang Rusuh Aksi Mujahid Akui Kumpulkan Pedemo di Mabes TNI


Jakarta – Mulyono membantah terlibat dalam rencana merusuh di Aksi Mujahid 212. Pensiunan PNS Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini mengaku hanya bertugas mengumpulkan mahasiswa untuk demo di depan Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

“Saya itu banyak ngurusin mahasiswa yang mau demo ke Mabes (TNI),” kata Mulyono dalam wawancara khusus dengan detikcom di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (9/10/2019).

Mulyono menjelaskan, pada Rabu (25/9) lalu, dia menerima sejumlah mahasiswa dari 18 kampus di Bandung untuk berdemo di Mabes TNI. Pertemuan Mulyono dengan para mahasiswa itu dilakukan di sebuah masjid di Cibubur, Jakarta Timur. Dia juga hadir di situ, saat itu.

“Saya itu setelah tanggal 25 (September) perhelatan (demo), kita¬†nginep¬†(bersama) anak-anak di Mabes TNI kan. Besoknya tanggal 26 masih belum juga diterima akhirnya polisi datang membubarkan,” lanjut Mulyono.

Menurut Mulyono, aksi saat itu sebetulnya kondusif. Namun, pada Kamis (26/9), ada segelintir mahasiswa yang berteriak ‘turunkan Jokowi’ hingga kericuhan pun pecah.
“Jadi jam 05.00-06.00 pagi itu anak-anak udah bubar sebetulnya, dari (tanggal) 26 pagi, karena ada yang meneriakkan mengenai turunkan Jokowi lah, nah anak-anak pecah,” katanya.

Mulyono mengaku kericuhan di aksi di depan Mabes TNI itu di luar ‘skenarionya’. Dia juga mengaku tidak ada agenda menurunkan Jokowi di aksi tersebut.

“Loh, kita kan ke sini bukan untuk (mendukung) paslon 1-paslon 2, bukan untuk 212, tapi kenapa ada cerita itu,” ucapnya.

Mulyono juga menyinggung adanya orasi emak-emak yang tidak terkontrol di aksi tersebut. “Nah orasi yang saat itu adalah emak-emak yang kita nggak bisa kontrol kan,” lanjutnya.

“Itu pecah anak-anak sebagian pulang ke Bandung, sehingga hanya sisa 1 bus,” katanya.

Mulyono menyebutkan ada 40 orang mahasiswa yang diinapkan di rumah mantan KSAL Laksamana Slamet Soebijanto.

“Yang 1 bus itu dibawa ke rumah Pak Slamet ada 40 orang, itunginepsemalam karena bus dari Bandung itu baru datang besok pagi, itu (tanggal) 26,” katanya.

Selanjutnya, pada Jumat (27/9), Slamet dipanggil ke Danpomal.

“Karena saat itu penangkapan ada dari Angkatan Laut dan polisi. Nah, 27 pagi sebetulnya saya ganti pakaian pulang ke rumah, balik ke situ udah nggak ada Pak Slamet, karena Pak Slamet, katanya Pak Basith, datang sama satu temannya namanya Raya itu mendampingi Pak Slamet ke Pomal,” katanya.

“Pulang dari sana, ceritalah Pak Slamet segala macam. Posisinya Pak Slamet diawasi oleh Pomal. Nah, cuma waktu saya bicara dengan tim kita di rumahnya Pak Slamet, Pak Basith (Abdul Basith) jam 07.00-08.00 pagi dia datang ke Pak Slamet,” katanya.
Di kediaman Slamet, Mulyono mengaku bertemu dengan Basith. Saat itu, Basith memberi tahu bahwa bom sudah jadi.

“Jadilah saya dipanggil ke sana dan katanya ‘barangnya udah jadi’, nah barang apalagigitu. Kanudahdari awal kita itu tidak bermaksud wilayah untuk yang bikin huru-hara itu. Kita adalah solusi untuk bangsa dari TNI bersama-sama rakyat menyelesaikan masalah bangsa ini,” lanjutnya.

Mulyono mengaku menolak ajakan Abdul Basith itu. Mulyono mengaku tidak bersepakat dalam rencana merusuh di aksi dengan bom. Tidak lama kemudian Basith ditangkap polisi dan dia pun ikut ditangkap.

“Saya tolak, ‘saya tidak di wilayah itu Pak Basith’. Terus dia pulang jalan dan dia WA ke saya bagaimana saya nggak mau terlibat ikut di dalam masalah itu karena emang tidak ada kesepakatan saat itu kan. Nah, begitu besok paginya, Pak Basithketangkap.Coba saya ikut sepakat dengan mereka nah kena saya, habis. Ituajakejadian kronologinya,” tandasnya.

sc:
https://news.detik.com/berita/d-4740057/tersangka-perancang-rusuh-aksi-mujahid-akui-kumpulkan-pedemo-di-mabes-tni?tag_from=wp_nhl_judul_9&_ga=2.197372715.562944701.1570544064-2014400901.1563940766